HARIANRAKYAT.CO – Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) di bawah kepemimpinan Tegar Afriansyah sukses menuntaskan rangkaian agenda penguatan organisasi dan ekspansi basis di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang April 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketimpangan struktural yang dinilai kian menjauhkan masyarakat dari akses kesejahteraan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan konsolidasi organisasi pada 10–12 April 2026 di Kota Kupang, yang mempertemukan kader dari Eksekutif Kota Kupang dan Eksekutif Kota Kefamenanu.
Pembangunan NTT Dinilai Masih Elitis
Dalam diskusi intensif tersebut, LMID membedah potret buram persoalan struktural di NTT. Mulai dari keterbatasan akses pendidikan yang berkualitas, tingginya angka pengangguran, hingga ketimpangan pembangunan yang mencolok antarwilayah di Bumi Flobamora.
LMID menilai, arah pembangunan di NTT sejauh ini masih cenderung elitis dan belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat miskin. Mahasiswa dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk mengisi kekosongan kritik dan menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan publik yang dianggap abai terhadap rakyat kecil.
Perluas Organisasi ke Sumba Barat Daya
Tak berhenti di konsolidasi internal, LMID melanjutkan kerja organisasi dengan melakukan perluasan basis di Sumba Barat Daya. Gerakan ini menyasar tiga kampus strategis, yakni Universitas Stella Maris Sumba, Universitas Katolik Weetebula (Unika Sumba), dan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Bakti Sumba.
Sebagai tindak lanjut nyata, Pra-Pendidikan Dasar telah sukses dilaksanakan pada 20–21 April 2026 di Sumba Barat Daya.
Melalui pendidikan kritis, para peserta diajak membedah bahwa kemiskinan dan ketimpangan di NTT bukanlah persoalan individual, melainkan dampak dari struktur ekonomi dan kebijakan yang timpang.
Ketua Umum LMID, Tegar Afriansyah, menegaskan bahwa penguatan organisasi di NTT adalah langkah awal untuk membangun gerakan mahasiswa yang lebih terarah dan ideologis.
Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pragmatisme organisasi maupun aktivitas seremonial yang tidak berdampak pada perubahan sosial.
“Mahasiswa harus kembali pada fungsi historisnya sebagai kekuatan kritis yang tidak boleh absen di tengah penderitaan rakyat. Di NTT, kami melihat arah pembangunan yang masih cenderung elitis dan luput menyentuh akar persoalan masyarakat miskin. Tanpa organisasi yang kuat dan kesadaran kritis, mahasiswa hanya akan kehilangan daya kritis sebagai pengawal kebijakan publik,” tegas Tegar.
Ia menambahkan bahwa di tengah tingginya angka ketimpangan, keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat miskin bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.
Mengawal Kepentingan Rakyat di Pinggiran
LMID berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap kader yang lahir dari proses pendidikan ini mampu menjadi kekuatan sosial yang konsisten.
Fokus utamanya adalah mengawal kepentingan rakyat di daerah-daerah pinggiran yang selama ini sering terlupakan dalam narasi besar pembangunan.
“Keberpihakan terhadap rakyat bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan bagi setiap insan akademis. LMID berkomitmen memastikan bahwa gerakan mahasiswa di NTT tidak menjadi pragmatis, melainkan mampu menjadi kekuatan sosial yang konsisten mendampingi mereka yang selama ini terpinggirkan demi narasi pembangunan yang belum merata,” pungkasnya. (*)





