Lawan Kekerasan Perempuan dan Anak, FORMAKER Kaltim Bentuk Satgas

Deklarasi FORMAKER Kaltim melawan Kekerasan Perempuan dan Anak.

HARIANRAKYAT.CO – Forum Masyarakat Anti Kekerasan (FORMAKER) Kaltim menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16-HAKTP) di Teras Samarinda Jalan gajah Mada (6/12/2024). Kegiatan 16-HAKTP dimulai sejak tanggal 25 November-10 Desember.

“Momentum ini sebagai refleksi perjuangan kaum perempuan melawan penindasan,” kata Direktur Puan Mahakam, Renny Astuti melalui rilisnya kepada media ini.

FORMAKER Kaltim terdiri dari beberapa elemen organisasi di Kaltim baik internal/eksternal kampus, LSM/NGO, lembaga bantuan hukum, organisasi lingkungan, dan pemerintahan yang terkait dengan isu perempuan serta penggiat seni kampoeng dongeng.

“Kegiatan ini untuk menyuarakan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan, anak, kaum disabilitas, dan isu-isu hak asasi manusia lainnya. Aksi ini bertema ”Kekerasan terhadap Perempuan & Anak = Pelanggaran Hak Asasi Manusia”,” imbuhnya.

Menurut Rei sapaannya itu, angka Kekerasan Seksual di Kaltim yang terus meningkat dan tertinggi di Kota Samarinda. dengan begitu diperlukan sebuah penyatuan seluruh elemen masyarakat agar segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan intoleransi kepada kelompok minoritas dapat dihentikan.

Deklarasi FORMAKER Kaltim disebut Rei lagi sebagai sebuah wadah untuk seluruh masyarakat Kaltim yang peduli terhadap isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Isu-isu Hak Asasi Manusia lainnya di Kalimantan Timur juga menjadi perhatian kami,” ungkapnya.

Rei berharap FORMAKER Kaltim ini dapat menjadi ruang bersama dan tempat aman bagi siapapun yang menjadi korban, tanpa memandang usia, keterbatasan fisik, jenis kelamin, suku, agama, untuk bisa bercerita ataupun mendapatkan akses apabila ingin melapor jika mengalami kasus segala bentuk kekerasan.

“FORMAKER Kaltim ini bersifat terbuka untuk siapapun yang ingin bergabung baik kelompok ataupun individu,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Purwanto Ketua Himpunan Mahasiswa Pembangunan Sosial Fisip Unmul mengatakan pentingnya menyatukan ide dan meluaskan jaringan.

“Untuk memperluas hubungan dalam keterlibatan perjuangan anti kekerasan diperlukan satu ruang yang terkumpul secara kolektif agar bisa memiliki dampak yang siginifikan karena kalau berdiri sendiri memperjuangkan anti kekerasan akan terasa berat sulit,”bebernya.

Hal senada disampaikan Kresna Yana Asli Amin. Menurutnya FORMAKER adalah Forum yang lahir dari sebuah Kegelisahan beberapa Aktivis Sosial dan Pemerhati Kekerasan di Kota Samarinda. Sebagaimana diketahui, kekerasan perempuan dan anak di Samarinda meningkat tahun 2024 ini.

Dalam waktu dekat FORMAKER akan melaksanakan Rapat kerja bersama membentuk pengurus dan menetapkan Program kerja.

“Tidak kalah penting adalah membentuk Satuan tugas (Satgas) Formaker Kaltim untuk membantu menangani masalah masalah kekerasan yang terjadi di Kaltim dan khususnya di Samarinda sebagai Ibukota Kaltim,”terangnya.

Berikut ini tuntutan FORMAKER Kaltim yaitu :

  1. Stop segala bentuk kekerasan baik itu kekerasan seksual, fisik, psikis, ekonomi, dan lainnya terhadap perempuan dan anak
  2. Berikan perlindungan, penuhi hak korban, dan akhiri kekerasan terhadap perempuan
  3. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak, ciptakan lingkungan yang aman dan setara
  4. Berikan jaminan ruang aman dimanapun untuk perempuan dan anak
  5. Stop kriminalisasi terhadap para aktivis pembela HAM
  6. Stop diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan ODHA.
  7. Hentikan kebijakan yang mendiskriminasi hak-hak seluruh masyarakat. (Y)

Bagikan: