HARIANRAKYAT.CO, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) terus mendorong lahirnya komoditas unggulan baru di luar sektor ekstraktif.
Salah satunya adalah tanaman kratom (Mitragyna speciosa) yang kini tengah dikaji secara serius untuk dikembangkan sebagai produk ekspor bernilai tinggi.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan kratom memiliki potensi ekonomi besar, khususnya di wilayah Tenggarong Seberang dan Kota Bangun yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sentra budi dayanya.
“Saat ini kratom sedang dikembangkan di dua wilayah itu sebagai bagian dari upaya membangun industri non-ekstraktif untuk peningkatan perekonomian masyarakat,” ujar Aulia kepada awak media (21/11).
Kajian Pabrik Obat Berbasis Kratom
Aulia mengungkapkan, Pemkab Kukar sedang melakukan pengkajian mendalam terkait rencana pembangunan pabrik pengolahan dan ekstraksi kratom. Kajian mencakup keseluruhan rantai produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari budi daya, tahap ekstraksi, hingga kesiapan ekspor.
“Industri ini bisa dikembangkan karena Kukar punya bahan bakunya. Yang kita perlukan sekarang adalah menyusun langkah strategis agar pengelolaan dan produk yang dihasilkan tidak menyalahi regulasi, terutama dari kementerian,” jelasnya.
Saat ini sudah terdapat pabrik kecil di Tenggarong Seberang yang dapat memproduksi ekstrak kratom, namun kapasitasnya masih terbatas. Pemkab Kukar menargetkan adanya penguatan kapasitas pabrik serta kemitraan lebih luas dengan kelompok petani.
“Pabrik sudah bisa membuat ekstrak, tapi produksinya kecil. Kita ingin ada penguatan kapasitas dan kolaborasi dengan petani,” katanya.
Kelompok Kerja Lintas Sektor Dibentuk
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kukar telah membentuk kelompok kerja lintas sektor yang melibatkan akademisi Universitas Mulawarman, Dinas Kehutanan, pelaku usaha, dan masyarakat. Tim ini telah final dan segera bergerak untuk melakukan feasibility study serta menyusun rencana aksi lapangan.
“Sekarang tim sudah final. Tahap berikutnya adalah feasibility study dan rencana aksi di lapangan,” tambah Aulia.
Sudah Ekspor, Namun Belum Mengusung Nama Kukar
Kratom asal Kukar sebenarnya telah menembus pasar internasional. Pada ekspor perdana ke India senilai Rp17 miliar yang dilepas Menteri Perdagangan RI Budi Santoso pada Februari lalu, sebagian besar bahan bakunya berasal dari Tenggarong Seberang.
Namun nama Kukar belum tercatat sebagai daerah penghasil di data ekspor nasional karena proses pengiriman masih dilakukan melalui Jakarta.
“Kalau kita di sini tak bekerja, produk kita yang diekspor, tapi yang tercatat adalah Jakarta,” ujar Aulia.
Kukar Ingin Punya Lab Sertifikasi Ekspor Sendiri
Aulia menambahkan, Kukar perlu memiliki fasilitas pendukung ekspor seperti laboratorium pengujian kualitas, mesin x-ray, dan sarana sertifikasi lainnya. Peraturan terbaru Kementerian Perdagangan mewajibkan produk kratom berbentuk serbuk berukuran di bawah 600 mikron, dengan harga jual mencapai US$5 per kilogram atau sekitar Rp82 ribu.
“Kita ingin semua proses ini ada di daerah agar manfaatnya kembali kepada masyarakat kita sendiri,” tegasnya.
Manfaat untuk Warga Jadi Prioritas
Aulia menegaskan, seluruh tahapan pengembangan industri kratom diarahkan agar nilai ekonominya dirasakan langsung oleh warga Kukar, bukan pihak luar daerah.
“Termasuk soal izin pengelolaan, kami ingin mendapat rekomendasi dari kementerian, apakah lebih baik dikelola oleh kelompok masyarakat atau perusda. Sesuatu yang baik harus dilakukan dengan benar,” ucapnya.
Dengan langkah strategis yang sedang disiapkan, Pemkab Kukar menargetkan pembangunan pabrik dan penanaman kratom secara masif dapat dimulai awal tahun depan.
“Jika semua sudah siap, awal tahun depan kita targetkan pembangunan pabrik dan penanaman kratom secara masif bisa dimulai,” pungkas Aulia. (Adv)





