Penulis buku sejarah Kalimantan, British North Borneo : Owen Rutter
Penerjemah : Sutrisno, S. Pd
Penyunting : Daru Wijayanti
Penerbit Indo literasi
Cetakan 1, 2017. Terbit pertama 1922
Berdasarkan isi buku di Daftar ; Geografi. Bab 6 (hal-1 s/d 15).
Harian Rakyat.co, SAMARINDA – Borneo, Pulau terbesar kedua di dunia 290 ribu mil persegi, lebih kecil dari Papua Niugini. Berada di garis khatulistiwa dengan bentuk seperti buah Pir raksasa atau buah lokal berasa pahit yang orang – orang Malaya namakan kela’mantan, sebuah nama yang digunakan untuk pulau ini di masa lalu.
Luas pulau Borneo 5 kali luas Inggris dan Wales atau tiga perempat pulau. Borneo dikuasai Belanda atau sepertujuh wilayah Borneo, dikuasai Serawak, di bawah Raja Brooke, keturunan ketiga dari Raja – raja kulit putih ; 4 ribu mil persegi dikuasai negara kecil Brunei, yang merupakan protektorat Inggris di bawah peraturan Sultan Pribumi dengan seorang Residen Inggris sebagai penasihat, dan sisa pulau seluas 31.106 mil persegi atau sepersembilan pulau Borneo dikuasai State of North Borneo atau negara Borneo utara, yang dikelola British North Borneo Chartered Company di bawah protektorat Inggris. Tahun 1891 Inggris dan Belanda mengakhiri perseteruan di perbatasan bagian Selatan Borneo ditetapkan melalui Konvensi kedua negara.
Sebuah teori telah diterima secara umum. Masa pembentukan geologi Borneo penggabungan pulau Sumatera dengan dataran utama asia dan pemisahan Sumatera dari Asia terjadi pada periode berikutnya. Zaman Es (Kala Pleistosen), yang berlangsung sekitar 2,5 juta hingga 11.700 tahun yang lalu. Secara lebih spesifik, fenomena penggabungan dan pemisahan daratan ini terjadi di wilayah geografis purba yang disebut Paparan Sunda (Sunda Shelf).
Orang utan menjadi subjek legenda rakyat. Ada satu legenda yang menceritakan tentang gadis Pribumi yang dibawa orang utan dan dijadikan tawanan dipuncak pohon yang tinggi sehingga tidak bisa melarikan diri. Si orang utan memperlakukan gadis dengan baik, membuatkan sarang ditengah cabang – cabang pohon dan setiap hari membawakan nya buah – buahan untuk dimakan dan kelapa untuk air minum, seiring berjalannya waktu si gadis melahirkan anak laki laki, separuh kera separuh manusia. Ia merasa malu dengan semua ini dan ingin melarikan diri. Akhirnya dia berencana dan ketika orang utan pergi, ia dengan sabar memintal tali dan serat sabut kelapa, disembunyikan di antara dedaunan, hingga tiba hari ketika tali cukup panjang mencapai tanah. dengan cepat menyelinap turun melarikan diri menuju laut meninggalkan bayi nya di belakang. orang utan mengetahui gadisnya melarikan diri. si gadis berdiri di atas pantai, dilihatnya air laut menari nari. Ia mendengar teriakan orang utan yang berayun di pepohonan menuju laut. Sebelum orang utan sampai ke pantai, si gadis sudah diatas perahu menuju lautan lepas. Nasib baik berpihak kepada si gadis menuju pantai berkarang. Orang utan yang gagal kembali ke sarangnya dalam keadaan marah mencengkram anaknya dan merobek nya menjadi 2, Membuang bagian manusia si bayi ke laut dan kera ke hutan. Tetapi orang utan tidak pernah menangkap pengantinnya perempuan lagi hingga saat ini, ketika mereka mendengar suara parau yang aneh jauh di pepohonan hutan, penduduk Pribumi berkata ada Kogyu sedang mencari pengantin wanitanya, untuk dibawa kembali ke sarangnya. -Bersambung- (**/Y)
Catatan Redaksi : Salam literasi.. 🙏 Tulisan dimuat untuk kepentingan literasi. Buku adalah jendela dunia.





