Desa Adat Sade Lombok NTB Dilalap Api, Mengenang Keramahan Suku Sasak

Kampung adat desa Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat sebelum Musibah kebakaran Tahun 2020.

HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA – Langit perairan selatan Lombok Tengah selalu menyimpan keheningan.

Pada awal 2020 silam, jejak langkah saya bersama 1 kawan bermula di sebuah pemukiman yang menjadi penjaga napas tradisi tertua Suku Sasak bernama Desa Adat Sade.

Bersama Mas Unggul, pemandu lokal yang amat fasih mengeja jejak leluhurnya, saya diajak menelusuri lorong-lorong desa yang berdiri sejak tahun 1079 tersebut. Nama “Sade” sendiri sarat makna, berakar dari kata husada atau nur husada dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti obat. Sebuah tempat penyembuh yang baru membuka diri bagi wisatawan dunia sejak tahun 1975.

Kala itu, Sade dihuni sekitar 700 jiwa yang terikat rapat dalam ikatan keluarga besar. Mereka mendiami 160 unit rumah, yang masing-masing ditempati satu kepala keluarga. Pertalian darah di antara mereka dijaga begitu erat. Sistem pernikahan adat di sini tergolong unik. Jika seorang pemuda menikahi perempuan dari luar kampung, mahar yang ditagih cukup tinggi, yakni 3 ekor kerbau atau sapi. Namun jika memperistri sepupu sendiri, maharnya terikat tradisi Aji Krame, cukup dengan 25 lembar kain tenun dan uang tunai Rp50 ribu.

Kehidupan adat mereka berpusat di Berugak Sakenam. Berugak berarti bangunan, sementara sake merujuk pada enam tiang kayu penyangga. Di bawah naungan enam tiang itulah seluruh perkara adat dan dinamika warga diselesaikan secara kekeluargaan.

Hunian warga di sini dinamai Balai Tani, mencerminkan profesi utama masyarakatnya yang bergantung pada sawah tadah hujan setahun sekali. Bangunan ini berdiri sederhana dengan dinding anyaman bambu dan atap ilalang kering, meski pondasinya telah diperkuat semen serta bata merah.

Di dalam Balai Tani, tata ruang terbagi secara cermat. Bagian dalam rumah memiliki pembagian fungsional, sisi kiri khusus untuk area memasak, sementara sisi kanan dimanfaatkan sebagai tempat bersalin dan tidur balita, sementara ruang depan sekaligus ruang keluarga tempat menerima tamu dan menyantap hidangan.

Satu-satunya tempat ibadah di kawasan ini adalah Masjid Nur Syahada yang sekaligus menjadi pusat kawah candradimuka anak-anak Sade belajar mengaji Al-Qur’an.

Namun, bagian paling tradisional dari Balai Tani terletak pada lantainya. Beralaskan tanah liat yang dicampur sekam padi, lantai ini dibersihkan 1 hingga 2 kali seminggu menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang masih segar. Bagi warga adat Sade yang telah bermukim hingga 15 generasi, memoles lantai dengan kotoran kerbau bukan sekadar aktivitas mengepel untuk mencegah tanah retak di pagi atau sore hari serta persiapan akil balik dan akikah anak, melainkan ritual penolak bala yang disucikan secara turun-temurun.

Masyarakat Sade memegang teguh hidup mereka. Perempuan dituntut pandai menenun sejak usia 6 tahun sebagai syarat mutlak untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Di sisi lain, kaum pria punya cara sendiri untuk menunjukkan kesatriaannya.

Di Sade, melamar gadis secara langsung kepada orang tuanya dianggap sebagai tindakan yang kurang terpuji. Leluhur mereka justru lebih mengapresiasi tradisi kawin lari—membawa lari sang gadis dan bertemu di bawah pohon cinta pada malam hari untuk memadu janji.

Pagi hari di Sade tidak ditandai dengan riuk piring sarapan, melainkan aroma seduhan kopi khas yang dicampur tumbukan beras halus. Ritual minum kopi ini menjadi bahan bakar para pria sebelum mencangkul di ladang, sementara kaum perempuan bersiap menjajakan kain tenun, gelang, dan aneka kerajinan tangan di pelataran rumah mereka.

Kini, memori tentang Balai Tani, kehangatan seduhan kopi beras, hingga derit alat tenun kayu di bawah atap ilalang itu mendadak menjelma duka yang teramat dalam.
Sabtu (22/8/2026) 22.00 malam, amukan si jago merah melalap habis permukiman bersejarah itu. Dari 160 rumah adat yang tercatat saat kunjungan saya dulu, kini sedikitnya 120 hingga 129 unit Balai Tani ludes tak bersisa. Sekitar 320 jiwa warga yang dulu menyambut wisatawan dengan ramah, kini harus mengungsi di gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Kotoran kerbau yang disucikan, bambu yang menopang atap ilalang, hingga kain-kain tenun buatan jemari perempuan Sasak kini telah berubah menjadi abu. Sade, sang “Obat” yang telah berdiri hampir satu milenium, kini sedang mengobati lukanya sendiri. Namun dari puing-puing abu tersebut, keteguhan 15 generasi Suku Sasak dipastikan tidak akan pernah padam. Sade akan kembali bangkit merajut masa depannya. (Y)

Bagikan: