KPBI Komitmen Bangun Persatuan Gerakan Buruh Indonesia

Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, Ilhamsyah (Istimewa).

HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA – Membangun gerakan buruh yang kuat di Indonesia memerlukan strategi yang melampaui sentimen emosional dan sektarianisme.

Kunci dari kemenangan kelas buruh bukanlah isolasi diri dalam kelompok-kelompok kecil yang kiri, melainkan kemampuan taktis untuk bekerja sama dengan berbagai serikat buruh, bahkan yang dianggap oportunis sekalipun.

Gerakan buruh revolusioner tidak boleh menjauhkan diri dari federasi atau konfederasi besar hanya karena pimpinannya dianggap moderat. Sebaliknya, dengan membangun aliansi atau kerjasama terbuka ruang untuk memenangkan simpati massa buruh di tingkat akar rumput.

Melalui kerja sama antar serikat buruh, buruh belajar untuk bertindak secara kolektif dan menyadari kepentingan kelas mereka yang melampaui tuntutan sektoral. Kolaborasi ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran “trade-unionism” menjadi kesadaran politik kelas buruh.

Serikat buruh sejati tidak didefinisikan dengan sikap paling kiri, paling keras atau paling menolak kerja sama, melainkan dengan kemampuan memahami realitas, memilah tujuan utama dan tujuan sementara, serta memanfaatkan peluang-peluang dalam pembesaran organisasi.

Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) sebagai organisasi buruh yang berjuang untuk pembebasan kelas buruh dari belenggu sistem kapitalisme. KPBI memiliki sikap terbuka dan tidak menutup ruang bekerja sama dengan Konfederasi dan Federasi besar, meskipun organisasi besar cenderung lunak dengan pemerintah atau pengusaha serta organisasi yang hanya memperjuangkan hak normatif buruh tanpa mengubah struktur sistem.

KPBI memilih strategi bekerjasama dengan serikat besar sebagai sarana untuk memperbesar persatuan gerakan buruh sebagai daya tawar dalam memenangkan tuntutan-tuntutan buruh serta memajukan persepektif revolusioner gerakan buruh di Indonesia.

Gagasan Vladimir U Lenin yang disampaikan kepada para kamerad berbunyi “Mereka mengira bahwa karena serikat buruh dipimpin oleh orang-orang oportunis dan reaksioner, maka kita harus menjauhinya, padahal jutaan buruh ada di dalamnya-ini bukan sikap revolusioner, melainkan sikap orang yang tidak mengerti cara berhubungan dengan massa,” ungkap Ketua Umum KPBI, Ilhamsyah mengutip Lenin terkait Prinsip Garis Massa.

Lenin pemimpin tertinggi Uni Soviet 1922-1924 pernah mengatakan menolak kerja sama atau kooperasi berarti menolak kesempatan untuk memperluas pengaruh gerakan, mengumpulkan kekuatan, dan mendekatkan diri kepada massa buruh yang masih ragu dan belum memahami tujuan perjuangan kelas buruh. Menolak kerja sama dengan serikat-serikat besar yang dipimpin pihak yang lunak berarti membiarkan jutaan buruh tetap berada dibawah pengaruh pandangan yang membatasi perjuangan mereka.

Maka KPBI menetapkan tiga prinsip dalam menjalin kerja sama:

  1. Tidak mengorbankan prinsip dasar dan tujuan akhir perjuangan;
  2. Tetap menjaga kemandirian organisasi dan kebebasan untuk menyampaikan pandangan sendiri;
  3. Bertujuan untuk memperkuat posisi kelas buruh dan memperluas pengaruh gagasan revolusioner.

Beberapa hal yang ingin dicapai KPBI dalam kerja sama dengan konfederasi dan federasi besar, diantaranya :

  1. Menjangkau massa buruh yang luas ; Serikat buruh besar umumnya memiliki jumlah anggota yang besar dan tersebar di berbagai sektor industri. Banyak buruh bergabung bukan karena setuju dengan pandangan pemimpinnya, melainkan karena kebutuhan praktis; melindungi hak-hak dasar, mendapatkan bantuan hukum, memperoleh informasi tentang ketenagakerjaan bahkan karena melihat organisasi yang besar. Melalui kerja sama ini, KPBI mendapatkan akses untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan menyampaikan pandangan yang lebih mendasar kepada lapisan buruh. KPBI disini hendak mempraktekan slogan “pergi ke tengah massa”, bukan hanya berkumpul dengan kelompok yang sudah sepaham.
  2. Membuktikan keunggulan gagasan memalui perjuangan nyata ; Kerja sama menjadi ajang pembuktian. Dalam perjuangan bersama untuk perbaikan nasib buruh, KPBI dapat menunjukan pendekatan yang hanya meminta perbaikan normatif tidak akan menyelesaikan akar persoalan. KPBI memiliki kesempatan yang luas untuk menjelaskan problem perburuhan sesungguhnya dikarenakan oleh sistem yang menindas yaitu sistem kapitalisme. Sehingga tidak cukup hanya memperjuangkan perbaikan nasib, akan tetapi perjuangan perubahan nasib merupakan perjuangan untuk merubah sistem kapitalisme dan membangun peradaban baru tanpa penindasan.
  3. Mencegah perpecahan yang menguntungkan lawan ; Perpecahan dikalangan kelas buruh selalu menguntungkan pemerintah dan pengusaha. Ketika organisasi buruh saling bermusuhan, kekuatan gerakan buruh akan terbagi dan akan mudah dikendalikan penguasa. Kerja sama yang ingin dicapai KPBI bertujuan untuk membangun kesatuan gerakan dalam perjuangan perbaikan nasib buruh, meskipun memiliki perbedaan tentang tujuan akhir. “bersatu dalam hal yang sama, berdebat dengan damai dalam hal yang berbeda,”

Dalam menghadapi pemimpin oportunis di dalam gerakan buruh, KPBI memilih sikap defensif aktif. Defensif berarti bertahan pada massa buruh dan tidak menyerang serikat-serikat lain yang benar-benar membela kepentingan buruh. KPBI tetap berada dilingkaran massa buruh dengan terus-menerus melakukan kerja penyadaran. KPBI juga tidak memusuhi serikat-serikat buruh, karena dengan memusuhi serikat buruh besar akan memicu perpecahan yang akan melemahkan gerakan buruh yang sudah dibangun. Aktif berarti bekerja keras dalam mengikis pengaruh oportunisme pemimpin buruh melalui kegiatan organisasi yang aktif dan pembuktian nyata, bukan sekadar retorika pertikaian perseorangan.

Ilhamsyah melanjutkan. “Perubahan dalam kehidupan buruh tidak hanya ditentukan kebijakan negara atau elit politik, tetapi dari kemapuan buruh sendiri dalam membangun kekuatan kolektif yang terorganisir, disiplin dan berkelanjutan,” jelasnya.

Dengan begitu, persatuan gerakan buruh menjadi penting untuk dibangun secara bersama-sama. KPBI mengajak seluruh unsur gerakan buruh untuk bersatu padu, menjalin kerja sama yang adil dan setara demi kebangkitan kelas buruh Indonesia. Sehingga slogan “Seluruh Buruh Indonesia Bersatulah!” bisa menjadi kenyataan. (*/Y)

Bagikan: