Amerika Serikat Ambil Alih Negeri Republik Bolivar Venezuela, Rusia dan China Buka Suara

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores yang ditangkap pasukan Delta Force AS.

Editorial Redaksi HARIANRAKYAT.CO

HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA – Ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer 3 Januari 2026 memicu protes masyarakat dunia.

Operasi menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro yang kemudian berhasil ditahan dan dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi proses hukum alias akal – akal Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Operasi militer AS atas Venezuela menuai reaksi kuat dari dunia internasional terkait isu kedaulatan dan hukum internasional, dengan berbagai negara Amerika Latin dan Eropa mengecam tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Beberapa negara secara khusus menyerukan penyelesaian damai dan menghormati kedaulatan Venezuela. Enam negara yakni Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Spanyol, secara resmi menyatakan keprihatinan mendalam terhadap upaya Amerika Serikat untuk mengambil alih sumber daya alam dan aset strategis Venezuela.

Keenam negara tersebut juga mengecam tindakan militer sepihak AS di wilayah Venezuela, yang dinilai sebagai preseden berbahaya bagi perdamaian dan keamanan regional serta mengancam keselamatan penduduk sipil.

Pernyataan itu menekankan situasi di Venezuela harus diselesaikan secara eksklusif melalui cara-cara damai, seperti dialog dan negosiasi, dengan menghormati kehendak rakyat Venezuela tanpa campur tangan eksternal.

Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026) menyatakan bahwa AS akan memimpin proses transisi di Venezuela. Sehari sebelumnya, AS melancarkan serangan besar-besaran yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka ke New York untuk diadili atas tuduhan narko-terorisme.

Menanggapi operasi AS, Venezuela telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara.

Dukungan untuk Venezuela juga datang dari sejumlah kekuatan global. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dan menyerukan pembebasan pasangan Maduro.

Senada dengan itu, China juga menegaskan bahwa tindakan AS melanggar hukum internasional dan menyerukan pembebasan segera pasangan presiden Venezuela tersebut.

Kekhawatiran ini muncul terkait pelanggaran hukum internasional karena tindakan militer dilakukan tanpa mandat dari Dewan Keamanan PBB.

Proses Hukum & Dampak Nyata

Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya dipindahkan ke New York City untuk menghadapi persidangan atas sejumlah dakwaan, termasuk dugaan keterlibatan dalam jaringan narkoba dan tindak kriminal lain, menurut otoritas AS.

Sementara itu, laporan terbaru menunjukkan bahwa beberapa warga Amerika yang sebelumnya ditahan di Venezuela telah dibebaskan oleh otoritas interim Venezuela sebagai langkah positif dalam hubungan yang sangat tegang antara kedua negara.

Korban & Dampak Kemanusiaan

Tidak hanya dampak politik dan diplomatik, kejadian ini juga membawa dampak kemanusiaan. Laporan independen menyebutkan sejumlah militer dan warga sipil Venezuela serta sekutu seperti Kuba tewas selama operasi militer tersebut, meski jumlah pastinya terus diperbarui dalam perkembangan situasi.

Sumber Daya Minyak & Kepentingan Global

Analisis dari berbagai pengamat juga menyoroti cadangan minyak Venezuela yang sangat besar — salah satu yang terbesar di dunia — sebagai salah satu faktor strategis dalam ketegangan tersebut. (***)

Bagikan: