HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA — Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang berlangsung secara nasional, berbagai organisasi dan aktivis perempuan di Samarinda menggelar aksi serentak di Gedung Temindung Hub, Selasa (25/11/2025).
Pembukaan kegiatan ditandai dengan pameran galeri foto serta catatan ekspresi yang diciptakan oleh perempuan muda sebagai refleksi pengalaman dan ingatan kolektif terhadap kekerasan.
Aksi dilakukan dalam bentuk kesenian, puisi, pertunjukan kreatif, hingga pembentangan spanduk di sejumlah titik publik sebagai simbol perlawanan terhadap kekerasan yang dialami perempuan.
“Kami membawa catatan panjang tentang kekerasan terhadap perempuan oleh negara. Baru-baru ini Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan, padahal pada tahun 1965, operasi militer di Aceh dan Timor Leste, serta peristiwa 1998 ada pelanggaran HAM dilakukan,” ujar Refinaya, salah satu peserta aksi dari jaringan anti kekerasan terhadap perempuan.
Ia menegaskan, manipulasi sejarah yang terjadi saat ini membuat upaya merawat ingatan menjadi sangat penting.
“Jika tidak ada yang menyuarakan tuntutan ini, kami khawatir kekerasan terhadap perempuan akan terus berulang,” tambahnya.
Selain isu nasional, aksi ini juga mengangkat persoalan kedaerahan, khususnya dampak industri tambang batu bara di Kalimantan Timur. Perempuan disebut sebagai kelompok yang paling rentan karena menjadi korban langsung paparan karbon serta kerusakan lingkungan yang ditimbulkan aktivitas pertambangan, terutama di wilayah lingkar tambang.
“Perempuan langsung terkena dampak dari industri ini,” ungkapnya.
Perayaan 16 HAKTP akan berlangsung sejak 25 November hingga 10 Desember 2025 dan dilakukan secara simultan hingga puncaknya pada momentum Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia.
“Aksi dilakukan secara simbolik, tetapi pesan yang kami sampaikan sangat nyata,” tutup Naya sapaannya.
(*)





