HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA – Partai Buruh menggelar Kongres Perempuan Indonesia sekaligus membentuk sayap perempuan partai bernama Suara Marsinah di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Pembentukan sayap ini menandai penguatan peran politik buruh perempuan dalam perjuangan melawan ketidakadilan struktural yang selama ini mereka alami.
Presiden Partai Buruh, Said Iqbal dalam pidatonya menyampaikan orasi keras dan emosional tentang posisi perempuan kelas pekerja yang kerap menjadi korban paling sunyi dari kekerasan negara dan modal, namun justru menjadi tulang punggung peradaban bangsa.
Ia mengingatkan kembali sosok Marsinah, buruh perempuan yang bekerja di pabrik jam di Jawa Timur pada era 1990-an. Marsinah bukan tokoh besar atau elit politik, melainkan buruh biasa yang berani memperjuangkan pemulihan upah di tengah situasi represif terhadap gerakan buruh pada masa Orde Baru.
Menurut Said Iqbal, Kongres Perempuan Indonesia menjadi peringatan terbuka bagi negara bahwa perempuan kelas pekerja tidak akan lagi diam, dipinggirkan, atau diperlakukan sekadar sebagai pelengkap pembangunan.
“Jika perempuan bergerak, sejarah akan berubah,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Partai Buruh Bidang Perempuan, PRT, dan Buruh Migran, Jumisih menyambut baik kehadiran ratusan peserta kongres dari berbagai daerah. Ia mengapresiasi semangat perjuangan buruh perempuan yang terus menyala meski menghadapi berbagai keterbatasan dan tekanan.
Jumisih menegaskan, Partai Buruh berkomitmen mencetak kader-kader perempuan yang kuat secara ide, gagasan, dan keberanian politik. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam politik elektoral merupakan langkah strategis untuk mengubah sistem yang selama ini belum berpihak kepada buruh, khususnya buruh perempuan. Prinsip garis massa dan kepeloporan tetap menjadi karakter dalam gerakan ini.
Ia menilai pemerintah belum sepenuhnya hadir dalam membela hak-hak buruh perempuan. Karena itu, masuk ke parlemen menjadi strategi penting untuk mendorong lahirnya kebijakan dan regulasi yang lebih adil dan memanusiakan manusia.
“Keterlibatan perempuan di Partai Buruh bukan sekadar memenuhi kuota 30 persen atau formalitas jabatan publik. Perempuan harus menjadi aktor utama dalam perjuangan menuju keadilan sosial yang sejati,” ujarnya.
Melalui Suara Marsinah, Partai Buruh menegaskan, perjuangan buruh perempuan tidak akan berhenti di ruang advokasi, tetapi bergerak langsung ke arena politik untuk memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan dari dalam sistem.
Gerakan ini bukan hanya dari pekerja saja, melainkan dari petani mahasiswa dan kaum miskin kota. (*)





