HARIANRAKYAT.CO, SAMARINDA – Garis hidup seseorang terkadang harus berbelok tajam sebelum akhirnya menemukan muara yang tepat. Hal inilah yang dialami Hendri (30) seorang pekerja swasta.
Jauh sebelum motor kustom (custom) di Samarinda, ia sempat akrab dengan kerasnya aspal jalanan.
Pada tahun 2013, Hendri adalah seorang “Amor”—istilah lokal Samarinda untuk anak-anak gaul yang gandrung dengan aksi balapan liar. Rentetan kecelakaan demi kecelakaan hingga stigma negatif masyarakat sempat membuatnya memilih vakum dan mengalihkan energi ke olahraga panahan. Namun, magnet dunia roda dua nyatanya terlalu kuat.
Sempat kembali ke motor sport dan kembali mengalami insiden kecelakaan, titik balik Hendri justru muncul saat dirinya mulai menyentuh dunia motor kustom. Dimulai dari membangun CB custom, ketertarikannya menggelinding bak bola salju menuju aliran Japstyle, Bratstyle, Bobber, Chopper, hingga akhirnya berlabuh pada Tracker. Sebuah perjalanan menembus batas-batas kultur roda dua.
“Dunia kustom itu membebaskan imajinasi kita untuk membangun motor yang berbeda dari buatan pabrikan. Dengan modal motor seperti Honda Tiger atau Yamaha Scorpio jadi pilihan. Tiger misalnya, sparepart-nya murah dan sangat fleksibel. Motor kustom ini bisa dipakai ke kantor, buat show up di event, riding, camping, nongkrong, hingga touring jarak jauh,” ungkap Hendri membuka cerita.
Kini, kultur kustom ini tidak lagi sekadar hobi minoritas. Geliatnya telah menjamur hingga ke wilayah hulu seperti Kutai Barat (Kubar), dengan variasi aliran yang kian kaya. Di tingkat nasional, pergerakan ini diwadahi oleh komunitas besar seperti JBI (Japstyle & Bratstyle Indonesia) yang rutin menggelar Kopi Darat Nasional (Kopdar Nas), bahkan eksistensinya sempat menggebrak ajang di Samarinda tahun 2022 lalu.
Merajut Persaudaraan Lewat Ride Bersama
Kultur motor kustom di Kalimantan Timur terus memperkuat eksistensinya. Melalui wadah JBI Chapter Samarinda, sebuah perhelatan akbar berskala regional tiga tahunan se-Kalimantan sukses digelar di Kota Samarinda, dengan mengundang berbagai komunitas independen lainnya.
Event ini bukan sekadar ajang pamer besi tua, melainkan ruang silaturahmi. Warga lintas profesi berkumpul dan melebur dalam satu frekuensi, membangun relasi positif, hingga melakukan aksi bakti sosial.
Konsep acaranya kian hype. Salah satunya dikemas dalam bentuk Camping Ride di tepi pantai, agenda ini menyajikan hiburan live music hingga simulasi balap pantai seperti drag race di atas pasir. Di sisi lain, pembuktian prestasi juga dilakukan lewat kontes modifikasi resmi. Pergeseran positif ini pun akhirnya mendapat lampu hijau dari lingkungan terdekat.
“Orang tua sekarang sangat mendukung karena kegiatannya positif. Dulu awalnya balapan liar di jalan raya, sekarang jalurnya dialihkan ke kontes motor dan balapan resmi di pantai. Kategori yang dilombakan banyak, mulai dari kelas Tracker, Trail Jadul, hingga kelas 120 cc ke bawah. Kelas Special Engine dan Tracker paling banyak diminati peserta. Dengan maraknya event resmi seperti ini, aksi balap liar di jalan raya bisa ditekan,” tambah Hendri.
Terkait keamanan unit kustom, Hendri menegaskan kuncinya ada pada penyegaran berkala (refresh ulang) dan faktor mekanik. Karya yang aman didasari oleh 70 persen keahlian hand-made dari builder dan welder melalui proses komunikasi serta imajinasi yang matang.
Ada Sentuhan Seniman di Motor Kustom
Di balik motor kustom yang mengaspal di Samarinda, ada tangan dingin Endi, mekanik dan builder bengkel yang menjadi tandem kreatif para pencinta motor kustom. Lulus sekolah atas pada tahun 2011, perjalanan Endi dimulai dari komunitas Jupiter Club dan MX Club.
Sebelum menceburkan diri total ke dunia kustom, Endi merupakan mekanik selama 9 tahun di bengkel motor asal negeri Samurai (Jepang), menangani motor-motor standar pabrikan. Bosan dengan rutinitas, ia mengambil keputusan berani untuk resign dan mengambil cuti ke Bali guna menyerap energi kreatif di sana.
Sekembalinya ke Samarinda, ia membuka bengkel di Jalan DI Panjaitan. Perjalanannya mendalami motor kustom semakin terasah saat seorang sejawat memintanya memperbaiki Motor Gede (Moge). Dari sana, Endi mulai mendalami karakteristik mesin gede seperti Harley-Davidson, hingga menguasai detail kelistrikan, tangki, dan spakbor kustom yang kini merintis bengkel di Jalan Dirgantara, Samarinda.
Rekam jejak prestasinya pun mentereng. Mengenang perjalanannya di tahun 2017 bersama kawan-kawan pendukung di bengkel Tulungagung Motor, Mas Endi nama bengkelnya sukses merombak Honda Megapro menjadi bergaya British Style dan berhasil menyabet gelar juara dalam kontes modifikasi di Kota Balikpapan.
“Tantangan motor kustom itu tinggi, kita dituntut fleksibel membangun mesin dan bodi agar bernilai seni tinggi. Sesuai keinginan pemilik motor atau usernya. Antar kawan solid dan saling bantu garap motor kustom bisa selesai,” kata Endi.
Solidaritas 10 Bengkel Kustom Samarinda
Saat ini, ekosistem motor kustom di Samarinda telah bertransformasi menjadi industri kreatif yang menjanjikan. Hendri user motor kostum dan Endi seorang mencatat sedikitnya ada 10 bengkel kustom di Samarinda yang kini saling menyokong, bertukar informasi, dan melengkapi kebutuhan suku cadang satu sama lain, alih-alih saling bersaing kaku.
Meskipun belakangan ini gelaran acara kustom besar lebih sering terselenggara di daerah tetangga seperti Samboja (Kutai Kartanegara) dan Balikpapan karena daya tarik pantainya, para builder di Samarinda berharap ke depan wadah motor kustom di Ibu Kota Kaltim ini semakin luas.
Endi bernaung diwadah JBI Chapter Samarinda dan komunitas independen lainnya terbukti mampu membangkitkan nilai ekonomi dari kreativitas motor jadul dengan karya yang semakin dihargai pasar lokal. Usaha kustomisasi roda dua di Samarinda kini bukan lagi sekadar hobi pelarian dari jalanan, melainkan sebuah sektor usaha kreatif yang mandiri dan berkembang. (*/Y)





