HARIANRAKYAT.CO, TENGGARONG – Upacara penurunan bendera merah putih di Kabupaten Kutai Kartanegara berlangsung sederhana. Kendati begitu tidak menghilangkan kesan moral yang kuat dari perayaan 17 Agustus 2026 di halaman kantor Bupati kukar jelang senja menyingsing diufuk barat.
Pakaian adat pria Dayak Kenyah secara umum disebut Sapei Sapaq, yang ketika dikenakan seorang pemimpin atau Panglima Perang dilengkapi dengan atribut khusus berlambang keberanian, wibawa, dan status sosial tinggi.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri sengaja menggunakan pakaian adat dayak untuk memberikan pesan kepada publik, yakni suku Dayak adalah salah satu suku yang berdiam Kabupaten Kutai Kartanegara.
”Melalui kesempatan ini kita semua di kabupaten Kukar hidup rukun, damai, berdampingan semua,” kata Bupati Aulia Rahman Basri seusai kegiatan.
Kendati begitu disebutnya, peristiwa konflik masyarakat belum lama ini di kecamatan Tabang, dengan simbolisasi pakaian adat dayak, Bupati Aulia menyebut Kabupaten Kukar telah selesai dengan baik.
”Konflik di daerah Tabang tertangani dengan baik. Masyarakat kembali rukun dan tercipta suasana yang aman,” tegasnya.

Sementara Wakil Bupati Rendi Solihin pakaian adat Rote dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Topi Ti’i Langga, yakni, penutup kepala tradisional berbahan daun lontar kering yang melambangkan keperkasaan, kehormatan, dan jiwa kepemimpinan.
Menggunakan Kain Lafa, yaitu kain tenun yang dililitkan di pinggang dan diselempangkan di bahu dengan corak merah marun serta motif Hua Peni, yang bermakna keluhuran serta keteraturan adat.
”Alasan pakai khas NTT ini karena kami turut bersolidaritas dan berduka cita sedalam – dalamnya dengan bencana alam gempa bumi di NTT,” ungkapnya.
Rendi menyebut pakaian yang dikenakannya sengaja disiapkan istrinya.
”Ibu Wabup yang milih, sudah dua kali upacara 17san istri saya yang punya ide. Kan sama juga dengan pakaiannya Wapres Gibran,” terangnya.

Sementara itu, Sekda Sunggono tampak menggunakan pakaian adat suku Bugis dari Provinsi Sulawesi Selatan.
”Ini salah satu cara kita menghargai kekayaan budaya masyarakat nusantara. Walaupun berbeda kita tetap satu, yaitu bangsa Indonesia,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN secara spesifik terletak di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara. Namun, sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masuk ke dalam Kawasan IKN sebagai kawasan pengembangan dan penyangga khususnya Simpang kecamatan Samboja dan Muara Jawa.
Dengan menonjolkan keberagaman pakaian adat tersebut, Kukar sedang membawa pesan kuat siap berdampingan dengan suku – suku Nusantara menyongsong urbanisasi atau exodus rakyat Indonesia di bumi mulawarman. (Y)





