HARIANRAKYAT.CO, TENGGARONG – Nasib pesut Mahakam kian mengkhawatirkan. Mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) itu kini hanya tersisa sekitar 66 ekor.
Ancaman kepunahan bukan lagi sekadar wacana. Aktivitas lalu lintas kapal, terutama pengangkut batu bara, hingga tekanan aktivitas manusia di sepanjang aliran Sungai Mahakam terus menggerus habitat alami satwa langka tersebut.
Perhatian terhadap penyelamatan pesut Mahakam bahkan melampaui batas negara. Salah satu sosok yang konsisten berada di garis depan konservasi adalah Daniela Kreb, pemerhati lingkungan asal Belanda yang tergabung dalam Yayasan Konservasi RASI.
Selama bertahun-tahun, Daniela mendedikasikan hidupnya untuk memastikan pesut Mahakam tidak hilang dari perairan Kukar.
“Kami mendirikan yayasan untuk menyelamatkan hewan yang terancam punah ini,” ujar Daniela, Selasa (10/2/2025).
Ancaman Nyata di Sungai Mahakam
Pesut Mahakam merupakan satu-satunya lumba-lumba air tawar di Indonesia. Namun populasinya terus menurun akibat berbagai faktor, mulai dari tabrakan kapal, jerat nelayan, pencemaran air, hingga degradasi habitat.
Daniela menegaskan upaya preventif harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
“Perlu langkah pencegahan yang lebih serius dan konsisten agar pesut tidak benar-benar punah. Jumlahnya dibawah 100 ekor sangat terbatas,” katanya.
Berdasarkan data Yayasan RASI, pada 2024 populasi pesut Mahakam tercatat sekitar 60 ekor. Memasuki akhir 2025, jumlah tersebut meningkat menjadi 66 ekor.
“Dalam satu tahun terakhir ada penambahan enam ekor. Sekarang tercatat 66 ekor,” imbuhnya.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Meski peningkatan jumlah itu memberi secercah harapan, angka 66 tetap tergolong sangat kritis bagi keberlangsungan spesies.
Upaya konservasi kini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga komunitas lokal dan lembaga konservasi independen.
Keseriusan menjaga ekosistem Sungai Mahakam diharapkan tidak berhenti pada pengawasan, tetapi juga pada pengendalian aktivitas yang berisiko terhadap keselamatan pesut.
Jika tidak ada penguatan kebijakan dan pengawasan yang konsisten, pesut Mahakam bisa saja tinggal menjadi cerita tentang satwa yang pernah hidup di Sungai Mahakam. (*)





