Takjil dan Denyut Ramadan di Pasar Tangga Arung Tenggarong

Anak ibu Wati pemilik gerai Mendoan Wati, Kusmawati.

HARIANRAKYAT.CO, TENGGARONG — Sabtu, 21 Februari, Kota Raja bangun dalam suasana teduh. Hujan yang turun sejak subuh membuat udara terasa sejuk sore itu dan jalanan, berkilau oleh genangan ditepi jalan.

Cuaca sendu di tenggarong menambah syahdu suasana Ramadan.

Menjelang sore, halaman parkir Pasar Tangga Arung mulai ramai. Warga berdatangan berburu menu berbuka. Aroma santan, kuah kari, dan gorengan panas bercampur dalam udara lembap yang menyisakan rinai hujan di dedaunan.

Di deretan gerai kuliner, pilihan terasa nyaris tak terbatas. Dari makanan tradisional berkuah hingga kering, sosis bakar, seafood, ayam bakar, sampai kambing guling. Kue basah dan kue kering tersusun rapi di etalase pedagang UMKM. Gelas-gelas minuman dingin warna-warni dengan topping lembut menggoda siapa pun yang melintas.

Namun bagi sebagian warga, berbuka tak harus langsung dengan nasi. Minuman segar dan kudapan ringan justru menjadi pembuka ideal. Sepotong amparan tatak rasa pisang, tahu pentol daging, tempe mendoan hangat, pastel dan lumpia mihun yang baru terangkat dari wajan menjadi primadona.

Harga pun relatif ramah. Gorengan dibanderol mulai Rp5 ribu untuk dua lumpia panas hingga Rp15 ribu untuk tempe mendoan jumbo. Sepotong amparan tatak dijual Rp10 ribu—cukup untuk mengganjal perut sebelum salat Magrib dan Tarawih.

“Kami jual kue kering juga untuk persiapan yang mau Lebaran,” ujar Kusmawati, anak pemilik gerai Wati Mendoan, sembari membantu ibunya melayani pembeli yang datang silih berganti.

Di tengah kesibukan itu, ada suasana kekeluargaan yang terasa kuat. Pembeli tak sekadar bertransaksi, tetapi juga berbincang, menawar ringan, dan bercanda. Ramadan menjadi ruang temu sosial yang hangat.

Simbol Ekonomi Rakyat yang Berbenah

Memasuki bangunan utama Pasar Tangga Arung, denyut ekonomi rakyat Kukar terasa semakin nyata. Pasar bertingkat dengan lantai keramik putih itu tampak bersih dan tertata. Bangunan ini baru saja diresmikan oleh Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, sebagai simbol pembenahan fasilitas perdagangan tradisional.

Di dalamnya, pengunjung bisa langsung berbuka di warung makan yang tersedia. Aneka pakaian muslim dan muslimah juga tersedia untuk menyambut Idulfitri. Salah satunya adalah Songkok. Untuk ukuran kecil dibanderol Rp50 ribu, sedangkan ukuran besar (nomor 9) Rp75 ribu.

“Ada songkok nasional, harganya sama dengan songkok Kota Raja,” kata seorang pedagang, seraya menegaskan bahwa songkok Kota Raja merupakan produksi asli warga Tenggarong.

Tak hanya kebutuhan ibadah, pasar ini juga menyediakan kebutuhan rumah tangga hingga penjualan kendaraan roda dua dan roda empat. Fungsinya tak lagi sekadar pasar tradisional, melainkan pusat aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Menunggu Bedug di Tengah Ikon Baru

Bagi keluarga yang membawa anak-anak, kawasan ini juga menyediakan ruang tunggu yang tak membosankan. Di area sekitar terdapat taman dengan ornamen pahlawan fiksi bergaya Marvel yang kerap menjadi latar swafoto sembari menanti bedug Magrib.

Sistem parkir pun telah menggunakan gate system. Tarifnya relatif terjangkau: Rp2 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil. Pengunjung hanya perlu menyiapkan uang tunai agar tak repot saat antre menyerahkan karcis keluar.

Menjelang azan, suasana berubah hening sejenak. Plastik-plastik belanja telah penuh, tangan-tangan membawa kantong kertas berisi takjil. Warga bergegas pulang atau memilih duduk di sudut warung untuk berbuka bersama keluarga.

Pasar Tangga Arung bukan sekadar tempat jual beli. Ia menjelma ruang cerita—tentang ketahanan ekonomi rakyat, tentang tradisi yang terus hidup, dan tentang Ramadan yang selalu menemukan caranya sendiri untuk menghangatkan kota tertua di Kaltim tersebut. (*)

Bagikan: