HARIANRAKYAT.CO, TENGGARONG – Akademisi Fisipol Universitas Mulawarman Saipul Bahtiar menyebut Aulia Rahman Basri berpotensi memimpin Kaltim 2029 mendatang. Kendati begitu terdapat catatan yang mesti dilakukan kepemimpinan barunya sebagai Bupati Kukar saat ini.
Praktisi kebijakan publik itu menilai kepemimpinan daerah harus lebih menekankan program konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar aktivitas seremonial.
Menurutnya, peresmian proyek seperti pasar atau jembatan memang bagian dari tugas kepala daerah, namun bukan itu yang paling dinantikan rakyat. Kukar Idaman Terbaik sebagai kelanjutan dari Kukar Idaman harus benar – benar merata.
“Meresmikan pasar, meresmikan jembatan itu baik. Tapi yang ditunggu masyarakat adalah program-program pro-rakyat yang benar-benar menyentuh akar persoalan. Jangan hanya seremonial,” ujarnya.
Saipul menekankan pentingnya kepala daerah rutin turun langsung ke lapangan untuk memastikan kebijakan benar-benar berdampak.
“Ke pasar itu jangan hanya untuk konten. Harus dicek langsung, harga ikan naik atau turun, harga telur bagaimana, apalagi menjelang Ramadan. Kalau harga terlalu tinggi, harus ada strategi stabilisasi. Itu baru kebijakan yang terasa manfaatnya,” ucap Saipul saat diwawancarai.
Ia juga menyoroti sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Menurutnya, pemimpin harus hadir melihat langsung persoalan petani dan nelayan.
“Turun ke sawah, lihat persoalan handtraktor, irigasi dan teknologi pertanian. Temui nelayan di sungai Mahakam maupun danau-danau. Itu yang harus menjadi agenda rutin. Dampaknya harus langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, Saipul mengkritik paradigma yang mengukur marwah daerah dari simbol kemewahan pejabat.
“Marwah daerah itu bukan dilihat hidup mewah pimpinannya. Pemimpin yang merakyat tidak perlu simbol kemewahan. Kalau perlu naik motor atau jalan kaki masuk gang kecil, itu lebih bermakna,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Kukar memiliki karakter wilayah yang berbeda-beda—hulu dan pedalaman, wilayah tengah, serta kawasan pesisir—yang masing-masing memiliki tantangan tersendiri.
“Tiga klasifikasi wilayah ini harus dirawat. Hulu beda persoalannya, tengah beda, pesisir juga beda. Kepala daerah harus memahami karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah,” imbunya.
Menurut Saipul, esensi kepemimpinan yang lahir dari rakyat adalah kembali kepada rakyat, menghadirkan solusi nyata, dan memastikan kebijakan berdampak langsung bagi masyarakat menengah ke bawah.
“Kesadaran untuk merakyat itu hanya bisa terjadi jika rakyat yang memilih langsung. Bukan DPR sehingga pertanggungjawaban kepada masyarakat, bukan kepada wakil rakyat di legislatif,” terangnya.
Survei DPI Merilis Kepuasan Publik Kukar Capai 74 Persen
Lembaga Data Plus Indonesia (DPI) merilis hasil Survei Kepuasan Masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang memotret penilaian publik terhadap kinerja pemerintah daerah. Rilis survei disampaikan ke publik pada tanggal 21 Februari 2026.
Survei dilaksanakan pada 8 hingga 14 Desember 2025 dengan metode wawancara tatap muka terhadap 700 responden yang tersebar di seluruh wilayah Kukar. Margin of error ±3,7 persen. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan kinerja Bupati Aulia 74,71 persen.
DPI juga mengevaluasi persepsi masyarakat terhadap 17 Program Kukar Idaman Terbaik periode 2025–2030 di atas 70 persen. Salah satu program dengan tingkat kepuasan tertinggi adalah Program Makan Bergizi Gratis untuk balita dan lansia yang memiliki keterkaitan dengan program nasional MBG. Program ini mencatat tingkat kepuasan sebesar 79,69 persen.
Untuk kategori program turunan, penyelenggaraan Erau Adat Kutai dan Festival Budaya dengan tingkat kepuasan 92,51 persen.
“Bupati Aulia baru dilantik Juni 2025 dan kinerjanya belum 1 tahun. Survei itu lebih tepat untuk Edi Damansyah dan Rendi Solihin sebelum PSU. Mungkin kalau survei caturwulan bisa saja, dan idealnya minimal 2 lembaga survei sebagai perbandingannya,” ungkapnya
Sang Dokter yang Menapaki Dunia Pemerintahan dan Bisnis
Aulia Rahman Basri dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang kuat di bidang kesehatan sebelum terjun lebih luas dalam dunia usaha dan pemerintahan.
Lahir di Kota Bangun pada 23 Agustus 1985, Aulia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Kota Bangun. Sedangkan Samarinda ia menamatkan pendidikannya di SMU 8 Sei Kunjang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin, Makassar, hingga meraih gelar Sarjana Kedokteran dan menyelesaikan pendidikan profesi dokter melalui beasiswa. Komitmennya di bidang kesehatan berlanjut dengan menempuh pendidikan Strata 2 dan meraih gelar Magister Kesehatan (M.Kes).
Kariernya dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai Kepala Puskesmas Kota Bangun tahun 2014. Ia kemudian dipercaya memimpin RSUD Dayaku Raja Kota Bangun sebagai direktur 2019. Pengalaman birokrasi juga dijalaninya di Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat tahun 2021.
Selain di sektor kesehatan pemerintahan, Aulia juga pernah aktif di dunia usaha dengan menduduki sejumlah posisi strategis di beberapa perusahaan swasta. Ia tercatat sebagai Komisaris Utama di PT Kawan Sejati Adhitama, Direktur Utama di PT Biomas Energy Mahardika dan Kutai Silika Utama, serta Komisaris di PT Cipta Griya Unggul dan Mitra Maju Bahari.
Riwayat Organisasi
Di bidang organisasi, Aulia dipercaya sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kutai Kartanegara tahun 2023. Tahun ini Aulia dipercaya sebagai Koordinator KAHMI (keluarga alumni HMI) Kukar.
“Jaringan organisasi bisa ikut membuka jalan Aulia ke puncak Provinsi,” ungkap Saipul lagi.
Karir Politik dan Keluarga
Sebelum akhirnya sekarang tercatat sebagai anggota Partai Gerindra, Aulia pernah masuk kepengurusan parpol, yaitu Wakil Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan DPC PDI Perjuangan Kutai Kartanegara.
Dalam kehidupan pribadi, Aulia beragama Islam, menikah dengan Andi Deezca Pravidhia dan telah dianugerahi anak. Ia berdomisili di Desa Kota Bangun Ilir, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dengan latar belakang sebagai dokter, birokrat, organisatoris, dan pelaku usaha, Aulia Rahman Basri menjadi salah satu figur yang memiliki pengalaman lintas sektor di Kutai Kartanegara.
Sosok Alternatif menggantikan Seniornya Maju di Pilbup
Aulia Rahman Basri resmi dilantik sebagai Bupati Kutai Kartanegara oleh Gubernur Kalimantan Timur pada Juni 2025. Pelantikan tersebut merupakan tindak lanjut dari dinamika politik pasca Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara Tahun 2024.
Sebelumnya, calon bupati Edi Damansyah didiskualifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dalam Amar Putusan Nomor 195/PHPU.BUP-XXIII/2025, Mahkamah Konstitusi mengabulkan sebagian permohonan pasangan calon Dendi Suryadi dan Alif Turiadi serta memutuskan mendiskualifikasi Edi Damansyah sebagai calon bupati.
Dalam putusan tersebut, Mahkamah juga memerintahkan partai politik atau gabungan partai politik pengusul untuk mengajukan calon pengganti tanpa mengganti Rendi Solihin sebagai pasangan calon wakil bupati.
Menindaklanjuti putusan tersebut, partai pengusung mengajukan nama Aulia Rahman Basri sebagai calon bupati pengganti yang berpasangan dengan Rendi Solihin. Pemungutan Suara Ulang (PSU) kemudian digelar pada 19 April 2025.
Dalam PSU tersebut, pasangan nomor urut 1 Aulia Rahman Basri – Rendi Solihin memperoleh suara terbanyak dengan 209.905 suara sah. Pasangan ini diusung oleh PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gelora, dan Partai Buruh.
Kemenangan dalam PSU tersebut mengantarkan Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin sebagai pasangan kepala daerah definitif Kabupaten Kutai Kartanegara, yang kemudian dilantik pada Juni 2025.
Aulia Rahman Basri, Energi Baru Kaltim
Di usianya 40 tahun, Aulia Rahman Basri menjadi salah satu kepala daerah termuda di Kalimantan Timur. Kehadirannya di pucuk kepemimpinan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bukan hanya hasil dinamika politik pasca putusan Mahkamah Konstitusi, tetapi juga menandai munculnya figur generasi baru dalam pemerintahan daerah.
“Aulia termasuk muda ya. Tentu energinya ke ditengah masyarakat bisa menular positif,” jelas mantan Ketua Bawaslu Kaltim tersebut.
Lebih dari sekadar proses politik, sosok Aulia mencerminkan perpaduan antara latar belakang profesional dan semangat generasi muda. Berangkat dari dunia kesehatan sebagai dokter dan pernah memimpin fasilitas pelayanan kesehatan di daerahnya, Aulia tumbuh dalam kultur birokrasi yang menuntut ketelitian, pelayanan, dan pendekatan berbasis data.
Usianya yang relatif muda dalam kancah politik lokal menghadirkan harapan baru, terutama bagi kalangan milenial dan generasi produktif. Di tengah tuntutan percepatan pembangunan, transformasi digital, dan keterbukaan informasi, figur kepala daerah berusia 40 tahun dinilai lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Kiprahnya yang juga aktif di organisasi dan dunia usaha menunjukkan karakter kepemimpinan yang lintas sektor—memahami birokrasi, dunia profesional, sekaligus dinamika ekonomi. Kombinasi ini menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan daerah yang semakin kompleks.
Kehadiran Aulia sebagai Bupati Kukar saat ini menjadi simbol regenerasi kepemimpinan. Di tengah dominasi figur-figur senior dalam politik daerah, munculnya kepala daerah dari generasi 1980-an membawa warna baru: lebih komunikatif, terbuka, dan dekat dengan aspirasi anak muda.
“Aulia bisa berpasangan dengan siapa saja ya. Bisa dengan Andi Harun Wali Kota Samarinda, atau Seno Aji Wakil Gubernur. Karena mereka di partai Gerindra sekarang. Tidak menutup kemungkinan dengan figur di luar partai lain juga berpotensi saya pikir,” bebernya
Dalam kesempatan beberapa hari lalu, media ini pernah menanyakan langsung kepada Bupati Aulia saat safari ramadan di kecamatan Muara Badak. Pertanyaannya apakah 2029 mendatang ia berkeinginan maju sebagai kepada daerah provinsi Kaltim, dan berpasangan dengan politisi lainnya, semisal Andi Harun.
“Belum kepikiran ke sana leh. Fokus Kukar dulu. Belanda masih jauh,” singkat Bupati Aulia menuju mobil dinasnya.
Sebaliknya pula kepada Andi Harun, media ini menanyakan langsung saat pembukaan pasar ramadan di lapangan parkir segiri Samarinda.
“Jangan ngaco lah. Pilgub masih lama, fokus dengan Samarinda dulu” kata Andi Harun kepada media ini.
Begitulah politisi, tidak ingin semua rahasianya mereka buka, alias malu – malu. Padahal karir linear kepala daerah bupati atau kota yang paling relevan adalah menuju level provinsi. Kecuali Gibran, dari Wali Kota Solo menjadi RI 2.
Pilkada Kaltim memang masih 3 tahun lagi. Bagi mereka yang memiliki kemauan melangkah maju sebagai kepala daerah Kaltim, 3 tahun adalah waktu yang ideal untuk bersiap dan bergerak entah dalam senyap atau secara terbuka.
Menukil teori Relativitas Einstein, kecepatan cahaya adalah batas kecepatan maksimum di alam semesta. Fisikawan kesohor itu mengatakan bahwa waktu bukanlah sesuatu yang mutlak. Waktu bisa melambat, bahkan menyusut tergantung kecepatan dan ruang yang dilalui. Perjalanan yang secara hitungan manusia mustahil, bisa terjadi dalam dimensi yang berbeda. (Y)





